NENEK TUA INI TIDAK MAU HIDUP MEMINTA MINTA,
IA LEBIH MEMILIH BERJUALAN SAPU LIDI
SEORANG NENEK TUA YANG ENGGAN
HIDUP DENGAN MEMINTA MINTA
HALLO ...SOBAT SETIA DUMAY... kali ini saya akan membagikann kisah seorang nenek renta yang hidupnya enggan meminta minta,ia lebih memilih berjualan sapu lidi. kisah ini sangat menginspirasikan buat kita semua sobat dumay.bahwasannya hidup itu tidak lah harus bergantung sama manusia. gantungkan lah semua harapan hanya pada ALLAH SWT. insya allah ada jalan.
yyuk kita simak cerita nya...
Ini adalah
sebuah kisah nyata tentang semangat seorang nenek tua yang berjuang
keras menghidupi diri sendiri. Seorang nenek tua yang berjibaku di
tengah derasnya arus modernisasi dan kehidupan glamor orang-orang
borjuis. Seorang nenek tua yang lemah nan renta yang mencoba bertahan
hidup dengan penuh kemandirian dan kejujuran tanpa mau meminta belas
kasihan orang lain diantara orang-orang yang mampu dan berkecukupan yang
selalu berkeluh kesah.
Alkisah, ada seorang teman menceritakan
kekagumannya pada seorang nenek yang mangkal di depan Pasar Godean,
Sleman, Yogyakarta. Ketika itu hari Ahad, saat dia dan keluarganya
hendak pulang usai silaturahim bersama kerabat, mereka melewati Pasar
Godean, Sleman, Yogyakarta.
Ibu dan
teman saya tergoda membeli ayam goreng di depan pasar untuk sajian makan
malam. Kebetulan hari mulai gelap. Di samping warung ayam goreng
tersebut ada seorang nenek berpakaian lusuh bak pengemis, duduk
bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul tiga ikat sapu. Keadaannya
terlihat payah, lemah, dan tak berdaya.
Setelah membayar ayam goreng, ibu teman
saya bermaksud memberi Rp. 1000,- (tahun 2004) karena iba dan menganggap
nenek tadi pengemis. Saat menyodorkan lembaran uang tadi, tidak diduga
si nenek malah menunduk kecewa dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi
uang, sekali lagi nenek itu menolak. Penjual ayam goreng yang kebetulan
melihat kejadian itu kemudian menjelaskan bahwa nenek itu bukanlah
pengemis, melainkan penjual sapu. Paham akan maksud keberadaan sang
nenek yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan membeli tiga
sapunya yang berharga Rp. 1.500,- per ikat. Meskipun sapunya
jarang-jarang dan tidak bagus, ikatannya pun longgar.
Menerima uang Rp. 5.000,- si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata dia tidak punya uang kembalian.
“Ambil saja uang kembaliannya,”, kata ibu teman saya.
kamar tidur si nenek yang hidup dengan kesederhanaan.
Namun, si
nenek ngotot untuk mencari uang kembalian Rp. 500,-. Dia lalu bangkit
dan dengan susah payah menukar uang di warung terdekat.
Ibu teman saya terpaku melihat polah
sang nenek. Sesampainya di mobil, ia masih terus berpikir, bagaimana
mungkin di zaman sekarang masih ada orang yang begitu jujur, mandiri,
dan mempunyai harga diri yang begitu tinggi.
Tidak ada salahnya bagi siapapun
khususnya yang berada di sekitar Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta untuk
membantu sang nenek tua penjual sapu lidi ini dengan membeli barang
jualannya, bukan dengan memberinya uang layaknya pengemis. Semoga Allah
SWT membantu sang nenek dan anda dan mendapat balasan kebaikan yang
melimpah di sisi Allah SWT.
(Kisah ini ditulis oleh Rizky Taufan, di Kudus, sebagaimana yang termuat di Majalah Intisari Agustus 2004, diambil dari Toko NU Online).
di sadur oleh zaenal arifin
dan di edit lalu copas ulang
bandung,4 maret 2017
![]() |
| zaenal arifin |



No comments:
Post a Comment